Cerita Dedi Menggeluti Profesi Petani Sayuran Selama Bertahun-tahun

Sariagri - Sariagri - Dedi Rikmayadi (42 tahun) merupakan petani asal Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Sudah sejak lulus SMA mulai menekuni profesi sebagai petani. Sempat alih profesi menjadi tenaga pemberdaya kelompok kehutanan sosial di sebuah anak perusahaan Perhutani pada tahun 2011, kemudian sebab di PHK pada tahun 2016, Dedi memutuskan untuk kembali menjadi petani sayuran."Kalau saya memang sejak lulus SMA itu sudah ke kebun. Sempat kerja di anak perusahaan Perhutani, tapi di PHK. Dari awal saya memang penasaran dengan pertanian, karena sektor ini paling rumit akhirnya saya kembali jadi petani," ujar Dedi kepada Sariagri.Berada di dataran tinggi, Dedi merotasi lahan miliknya seluas 5.000 meter persegi dengan berbagai jenis sayuran mulai dari kubis, daun bawang, wortel hingga kentang."Karena di sini cocok untuk ditanami sayuran, jadi biasanya setelah tanam kentang saya rotasi dengan berbagai jenis sayuran dan ditumpang sari," ungkapnya.Menurut Dedi, menanam sayuran itu bagaikan bermain judi, kadang mujur atau bahkan buntung. Pintar-pintar dalam hal pemasaran dan memilih waktu tanam saja untuk bisa mengkerek harga yang lebih baik."Kalau bertani sayuran sebenarnya gembling, soalnya kita nggak tahu gimana harga ketika panen," katanya.Dedi menyebutkan, saat ini harga kol di kebun Rp1.000 per kilogram, bawang daun sekitar Rp6.000 per kilogram, dan kentang sekitar Rp6.000-Rp8.000 per kilogram."Kol bahkan pernah mencapai harga terendah Rp500 per kilogram, bawang daun juga pernah nggak ada harganya ya nggak laku," tuturnya.Dedi mengaku, di wilayahnya, panen petani masih dikuasai oleh bandar alias tengkulak. "Kenapa petani masih bergantung ke bandar, karena memang tidak ada pilihan lain," ucapnya.Sebenarnya Dedi pernah menjual hasil panennya langsung ke pasar ecer dengan harga yang jauh lebih menguntungkan, tapi permasalahannya adalah penyerapan yang cenderung tidak banyak. Lahan pertanian terdegradasi Sewaktu duduk di bangku sekolah, Dedi pernah mempelajari tentang biologi, fisika dan kimia. Kini, bekerja di lahan pertanian membuatnya mengingat pelajaran-pelajaran itu."Waktu saya sekolah, saya belajar kimia, fisika cuma waktu itu nggak kepikir juga ini buat apa. Ternyata pas bekerja di pertanian ini, ada kaitannya dengan kimia, biologi, dan fisika," katanya.Degradasi lahan pertanian, menurut dia adalah hal yang nyata. Terjadi pula di lahan miliknya. Dia mengakui, lahan pertanian yang bertahun-tahun menjadi tempat produksi tanaman dengan berbagai pemberian pupuk kimia dan pestisida kimia membuat kesuburan tanah semakin menurun. Akibat itu, kemudian produksi tanaman ikut berkurang. "Saya sudah puluhan tahun bertani, otomatis unsur hara di lahan berkurang juga karena terus diolah," ungkapnya.Dedi paham, sebelum melakukan penanaman alangkah baiknya petani perlu melakukan pengujian unsur hara tanah. Dengan demikian, kata dia, petani bisa memberi pupuk lebih tepat dan bijaksana. Tapi, akses petani terhadap pengujian tanah menurut Dedi masih sangat sulit. "Kita petani kenyataannya tidak bisa melakukan itu (pengujian tanah di laboratorium) juga soalnya akses yang terbatas, salah satunya faktor biaya," sebutnya. Peluang bertani sayuran Meski harga kerap berfluktuasi, menanam sayuran juga masih punya peluang keuntungan. Dedi menjelaskan, misalnya untuk menanam 10.000 tanaman kol, menghabiskan biaya produksi sekitar Rp13 juta. Saat panen harga Rp3.900 per kilogram, dan produksi mencapai 9 ton maka omzet yang didapat bisa mencapai Rp35 juta."Tapi itu kalau lagi harga bagus, bertani itu omzetnya nggak tentu, tidak seperti berdagang. Kecuali kentang yang harganya cenderung stabil," jelasnya. Rencana dan harapan Rencana ke depan, Dedi ingin memperluas pasar hasil panennya, bukan hanya ke tengkulak. Di samping itu, Dedi juga berharap pemerintah bisa mengendalikan harga komoditas pertanian termasuk sayuran."Soalnya kalau gembling begini susah juga petani memprediksi pendapatannya," ucapnya.Dedi melanjutkan, ketersediaan penyuluh pertanian dirasa masih kurang baik dari sisi jumlah maupun kompetensi penyuluh. Dedi menyarankan agar dinas pertanian bisa memberikan penyuluhan yang kompeten lebih luas dan merata ke seluruh petani yang ada di daerah.Selain itu, Dedi berharap pemerintah bisa menyediakan fasilitas seperti koperasi dan lembaga keuangan. "Nantinya lembaga atau koperasi itu bisa menjadi akses pinjaman modal untuk petani dan menjadi wadah untuk menampung hasil pertaniannya," pungkas Dedi.
http://dlvr.it/SMd6wJ

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama